Hadir dalam Bedah Buku 'Marhaenisme Reloaded' di Magetan, Rocky Gerung: Jadikan Magetan Kota Berpikir


MAGETAN lenteraindonesianews.com– Mengambil momentum Bulan Bung Karno di bulan Juni, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan menggelar acara peluncuran dan bedah buku “Marhaenisme Reloaded: Masih Relevan untuk Gen Z?”. Acara yang berlangsung dinamis ini menghadirkan pengamat politik nasional, Rocky Gerung, sebagai salah satu narasumber utama.

​Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Pertemuan Gedung DPC PDI Perjuangan Magetan. Selain Rocky Gerung, acara ini juga menghadirkan pembedah buku yang juga akademisi, Airlangga Pribadi Kusman, serta dipandu oleh Saka Dio selaku moderator.



​Pantauan di lokasi, acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota DPR RI Novita Hardini, politisi senior PDI-P Budi Sulistyono (Kanang), Anggota DPRD Jawa Timur Diana Sasa, serta seluruh jajaran anggota DPRD Magetan dari Fraksi PDI Perjuangan.

​Merawat Gagasan dan Membayar "Hutang" Literasi

​Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan, Diana Sasa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bulan Juni merupakan bulan yang sakral untuk merawat ingatan sejarah dan pemikiran kemerdekaan. Semangat "Jas Merah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) menjadi landasan untuk terus merawat gagasan dan keberanian berpendapat.

​"Hari ini adalah momen saya ibarat membayar hutang, setelah lama tidak melakukan bedah buku sejak menjadi Anggota DPRD Provinsi. Kami ucapkan terima kasih kepada para peserta yang hadir dari berbagai wilayah di Kabupaten Magetan, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari berbagai daerah di eks-Karesidenan Madiun," ujar Diana Sasa.


​Acara dibuka oleh pemantik dari moderator Saka Dio yang melemparkan pemikiran pemantik, "Tidak ada perjuangan yang besar jika tidak dimulai dari gagasan yang besar."

​Kritik Akademis dan Relevansi Marhaenisme

​Saat sesi pemaparan, Rocky Gerung menyoroti pentingnya fungsi kritik dalam mengawal kebijakan publik. Menurutnya, konsep Marhaenisme yang diajarkan oleh Bung Karno pada dasarnya adalah tentang kesetaraan dan keadilan sosial yang harus diwujudkan dalam kebijakan nyata.

​"Fungsi kritik itu ada di DPR sebagai watchdog pemerintah. Marhaen mengajarkan kesetaraan dan keadilan sosial. Saat ini, belum ada kebijakan yang langsung menyentuh ke piring kosong emak-emak, dan hal pertama yang kita tuntut adalah kehadiran kebijakan itu. Untuk itu, dibutuhkan kritik yang berbasis akademis," tegas Rocky.

​Rocky juga menambahkan bahwa esensi dari Marhaenis saat ini adalah sebuah kondisi untuk melawan eksploitasi kebijakan publik agar masyarakat tidak mudah dikelabui oleh deretan data statistik.

​"Kita harus bertarung secara akademis, jangan sebatas intelektual. Ada jalan keluar, yaitu jalan kiri yang kita sebut Marhaenisme. Percayalah, jika Anda memilih berada di jalan kiri (dalam konteks berpikir kritis), Anda akan tersesat di jalan yang terang," kelakar Rocky yang disambut riuh peserta.

​Ia juga mengkritisi bagaimana opini publik saat ini kerap dikendalikan oleh kekuasaan dan pasar, yang mengaburkan rasionalitas universitas. Rocky mengingatkan kembali pesan Bung Karno agar tidak membiarkan pasar ekonomi menguasai kehidupan sosial secara mutlak.

​"Opini dikendalikan oleh power, rasionalitas universitas dikendalikan oleh pasar. Bung Karno melarang market economy menjadi market society," tuturnya.

​Di akhir pemaparannya, Rocky Gerung memberikan pesan khusus bagi masyarakat dan generasi muda di Magetan untuk terus menghidupkan iklim intelektual.

​"Jadikan Magetan Kota Berpikir," pungkas Rocky menutup sesinya.(Beni Setyawan/Red)

1/Post a Comment/Comments

Posting Komentar

Dibaca :