LENTERANDONESIANEWS.COM | MAGETAN – Telaga Wahyu, destinasi wisata di Kabupaten Magetan yang dahulu akrab dengan nama "Telaga Wurung", kini kembali menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan.
Meskipun telah bersolek dan menelan anggaran revitalisasi yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir, telaga indah ini dinilai masih gagal menjadi magnet bagi wisatawan. Kondisi di lapangan justru menunjukkan tanda-tanda kemunduran yang memicu pertanyaan publik mengenai keseriusan tata kelola oleh pemerintah daerah.
Pusat Kuliner Mangkrak dan Plafon Ambrol
Sorotan tajam datang dari Widia Astuti, seorang Praktisi Pariwisata Kabupaten Magetan. Ia menilai pembangunan fisik di kawasan Telaga Wahyu terkesan setengah hati dan tidak diiringi dengan aspek pemeliharaan yang memadai.
Fasilitas yang awalnya diproyeksikan untuk mendongkrak perekonomian warga lokal kini justru rusak sebelum sempat memberikan dampak optimal bagi industri pariwisata daerah.
"Kondisi bangunan yang digadang-gadang menjadi pusat kuliner dan UMKM ternyata sekarang mangkrak. Plafonnya ambrol akibat atap yang bocor," ujar Widia saat dihubungi oleh Lenteraindonesianews.com.
Berdasarkan pantauan visual dari video laporan di lapangan, kondisi bagian dalam salah satu bangunan tersebut sangat memprihatinkan dan membahayakan.Selain itu, air hujan tampak bocor dari atap hingga membasahi dan menggenangi area lantai bangunan.
Tak hanya masalah gedung, keberadaan deretan rangka besi (kanopi) di sepanjang jalan setapak tepi telaga dinilai tidak menyatu dan justru mengganggu keindahan pemandangan alam telaga. Akses menuju replika pesawat yang sempat diresmikan beberapa waktu lalu pun kini tampak kotor, terbengkalai, dan minim perawatan prasarana.
Kelalaian Perawatan: Satu Ekor Kijang Mati Tragis
Tidak hanya masalah infrastruktur bangunan yang terbengkalai, Widia juga mengungkap fakta miris yang selama ini luput dari perhatian publik. Buruknya manajemen pengelolaan Telaga Wahyu berimbas langsung pada kelangsungan hidup satwa peliharaan di sana.
Dari tiga ekor kijang yang awalnya ditempatkan di kawasan wisata tersebut sebagai daya tarik tambahan, kini dilaporkan hanya tersisa dua ekor saja.
Kematian tragis menimpa satu ekor kijang betina yang mengalami komplikasi saat hamil. Bayi di dalam kandungannya mati terlebih dahulu, disusul oleh kematian sang induk beberapa hari kemudian akibat tidak adanya penanganan medis yang cepat.
Widia menyayangkan minimnya pengawasan dan perawatan medis untuk satwa tersebut. "Artinya itu perawatannya ngawur," tegasnya. Kejadian ini memperkuat indikasi bahwa alokasi dana pemeliharaan di kawasan tersebut tidak tepat sasaran dan terkesan sia-sia.
Ironi Nama: Akankah Telaga Wahyu Kembali "Wurung"?
Perubahan nama dari Telaga Wurung menjadi Telaga Wahyu dulunya membawa harapan besar agar tempat ini menjadi "wahyu" atau berkah bagi pariwisata Magetan. Namun, realita di lapangan saat ini memicu ironi dan pertanyaan besar di tengah masyarakat.
Dalam filosofi Jawa, kata "wurung" memiliki arti batal, tidak jadi, atau gagal. Publik kini mulai mempertanyakan, apakah pergantian nama dari Telaga Wurung yang bermakna "tidak jadi" tersebut pada akhirnya justru harus dialami secara nyata oleh Telaga Wahyu saat ini? Akankah kemegahan pariwisata yang dijanjikan kembali wurung akibat tata kelola yang setengah hati?
Jika tidak segera ada langkah konkret dan evaluasi menyeluruh dari dinas terkait mengenai perbaikan fasilitas serta komitmen pemeliharaan ekosistem, kekhawatiran masyarakat bahwa telaga ini akan kembali pada "takdir" nama lamanya—sebagai proyek yang gagal berkembang—bisa benar-benar menjadi kenyataan.
Tanggapan Kepala Disparbud Magetan
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Kabupaten Magetan, Suwito, membenarkan situasi tersebut. Melalui pesan singkat WhatsApp, ia menyampaikan bahwa pihaknya telah berupaya merencanakan perbaikan namun terkendala oleh mekanisme penganggaran daerah.
"Ya mas, keadaannya memang seperti itu. Awalnya kita ajukan di perubahan APBD 2026. Karena tidak memungkinkan, kita ajukan di APBD 2027. Insyaallah kalau disetujui di Anggaran 2027, kita usulkan untuk mendapat perbaikan," pungkas Suwito.
Baca juga : Silpa Magetan 2025 135 Miliar
Video Terkait:
Untuk melihat secara langsung kondisi kerusakan bangunan dan plafon yang ambrol di kawasan Telaga Wahyu Magetan, silakan klik tautan video berikut:
https://youtube.com/shorts/uW7Nmo52xi0?si=YYxGI17L12dEFUNi
Jurnalis: Beni Setyawan
Posting Komentar