Tradisi Becekan Amplop adat Jawa wujud kerukunan apa beban sosial ?


Magetan http://www.lenteraindonesianews.com Tradisi "ngamplop" di nikahan Jawa itu sebenarnya bukan aturan adat asli dari zaman kerajaan. Tidak ada catatan pasti sejak tahun berapa, tapi kemungkinan besar mulai populer baru-baru ini, zaman modern.

*Jadi asal usulnya gimana?*

1. *Bukan adat pakem*: Akad nikah adat Jawa kuno itu fokusnya ke ritual sakral, simbol, dan doa restu. Isinya janji suci, bukan transaksi. Nggak ada kewajiban tamu bawa amplop. 05a7
2. *Muncul dari budaya gotong royong*: Kemungkinan tradisi ini lahir dari rasa "ewuh pakewuh" orang Jawa. Dulu hajatan butuh biaya besar, jadi tamu ikut bantu meringankan beban tuan rumah. Lama-lama jadi kebiasaan balas budi: "aku ngamplop ke kamu, nanti kamu ngamplop ke aku". d6c0
3. *Amplop = bentuk modernnya*: Zaman dulu bantuannya bisa berupa bahan makanan, tenaga, atau barang. Sekarang paling praktis ya uang dalam amplop. 
*Intinya*:tidak  ada patokan "sejak tahun berapa wajib amplop". Ini tradisi sosial yang berkembang karena gotong royong, bukan syarat sah nikah adat Jawa. Makanya sekarang banyak juga yang mulai merasa keberatan kalau dianggap wajib.apalagi di saat kondisi ekonomi sedang tidak baik baik saja.

Kalau di undangan tertulis "tanpa mengurangi rasa hormat, tidak menerima amplop" berarti tuan rumah memang niatnya cuma minta doa restu aja bukan minta dukungan dana buat nikahan apalagi mencari untung.Apalagi untuk tuan rumah yang berasal dari keluarga terpandang tentunya akan menjadi lebih dihormati disegani secara sosial jika tidak menerima amplop/bingkisan dalam acara pernikahan yang digelar.

Kamu tim pro amplop atau tim "datang, makan, pulang" aja? Silahkan komen di bawah . (red)

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :