Bupati Madiun Tekankan Pendidikan Karakter dan Tracing Anak Tidak Sekolah Menuju Indonesia Emas 2045

​

​MADIUN —lenteraindonesianews.com Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menegaskan bahwa kecerdasan akademis harus beriringan dengan pembentukan karakter yang kuat sebagai fondasi utama mencetak generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan koordinasi dan pembinaan pendidikan yang berlangsung di Gedung Dwija Hayu, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Jumat (16/10/2026).

​Kegiatan ini turut dihadiri oleh pejabat Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Madiun, pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta jajaran Kepala Sekolah mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP se-Kabupaten Madiun.


​Dalam arahannya, Bupati Hari Wuryanto menyampaikan bahwa melahirkan generasi yang pintar saja tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan akhlak dan moral yang baik sejak dini.

​"Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar saja, tetapi juga harus berkarakter. Karena itu kami gandeng semua stakeholder, dari Kemenag hingga FKUB. Ini harus jadi budaya sejak dini," tegas Bupati Hari Wuryanto di hadapan para peserta yang hadir.


​Sejalan dengan penguatan karakter, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun juga memberikan perhatian serius terhadap penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS). Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, saat ini masih terdata sekitar 3.000 anak tidak sekolah di wilayah setempat.

​Langkah Strategis Pemkab Madiun

​Untuk menuntaskan persoalan ATS sekaligus memperkuat fondasi moral siswa, Pemkab Madiun menyiapkan beberapa program prioritas:

  1. ​Penyisiran (Tracing) Anak Tidak Sekolah: Bupati menginstruksikan Dinas Pendidikan bersama para kepala sekolah untuk turun langsung ke lapangan melacak keberadaan anak-anak yang putus sekolah di wilayah masing-masing agar segera mendapatkan hak pendidikannya.
  2. ​Program Pembentukan Karakter Siswa: Meluncurkan gerakan pembiasaan nilai keagamaan dan kebiasaan baik, seperti "Gerakan Ayo Mengaji" (GEMAR) bagi siswa Muslim, serta pembinaan keagamaan bersama Kemenag dan FKUB bagi siswa non-Muslim.
  3. ​Pendidikan Kesetaraan (PKBM): Memfasilitasi anak-anak usia non-formal untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur Paket A, B, atau C agar tetap memiliki ijazah yang setara.
  4. ​Penyaluran Bantuan Pendidikan: Memastikan bantuan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan beasiswa daerah tepat sasaran untuk meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu.

​Melalui sinergi erat antara kepala sekolah, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat, Pemkab Madiun optimistis mampu menekan angka ATS sekaligus membentuk generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap bersaing menyongsong Indonesia Emas 2045. (Beni Setyawan/ADV) 

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :