MAGETAN — Di senja usianya yang kian redup, jemari keriput Mbah Misrah (80) seharusnya tak lagi perlu memeras keringat menahan beban hidup. Namun, realita pahit menghantamnya tanpa belas kasihan. Tabungan senilai Rp50 juta—rupiah demi rupiah yang ia kumpulkan dari peluh dan kesederhanaan selama puluhan tahun—kini sirna tak tentu arah, terperangkap dalam kemelut gagal bayar KSPPS MSI Magetan.
Uang itu bukan sekadar angka di atas kertas deposit. Bagi Mbah Misrah, Rp50 juta adalah lambang martabat dan kemandirian seorang tua yang hanya ingin menjaga harga dirinya. Ia merajut mimpi sederhana: tidak ingin merepotkan darah dagingnya sendiri saat tubuhnya kelak tak lagi sanggup berdiri.
Namun, benteng harapan bersahaja itu runtuh seketika. Untuk sekadar menyambung napas dan mengisi perut esok hari, wanita lansia ini terpaksa harus tetap memelihara ayam, menjualnya, serta melakoni pekerjaan serabutan apa saja di sekitar rumah.
"Saya tidak mau membebani anak cucu. Rencananya uang tersebut untuk masa tua saya jika sudah tidak bisa bekerja lagi. Saat ini untuk kehidupan sehari-hari saya menjual ayam juga serabutan di rumah. Saya berharap uang itu bisa kembali," tutur Mbah Misrah dengan suara lirih bergetar, menyisakan kepedihan mendalam yang menusuk hati siapapun yang mendengarnya.
Mbah Misrah hanyalah satu dari ribuan potret luka yang tertinggal di Magetan. Skandal gagal bayar KSPPS MSI yang ditaksir menelan kerugian fantastis mencapai Rp40,1 miliar telah meluluhlantakkan ekonomi warga, mulai dari kalangan bawah hingga menengah. Di balik megahnya angka puluhan miliar itu, ada jeritan sunyi para pedagang kecil, buruh, dan lansia yang tabungan masa depannya dirampas paksa oleh keserakahan.
Kini, proses hukum tengah bergulir di Pengadilan Negeri Magetan. Di tengah dinginnya ruang sidang dan rumitnya perdebatan pasal-pasal, ada mata renta Mbah Misrah yang terus menatap nanar. Dalam setiap helaan napas beratnya, ia dan para korban lainnya hanya menyisakan satu doa sederhana di sisa umur mereka: agar keadilan tidak buta, dan uang jerih payah seumur hidup itu bisa kembali ke pangkuan sebelum napas terakhir menghembus.
Video kegiatan ini bisa di klik di https://www.youtube.com/@lenteraindonesianews (Jurnalis Beni Setyawan)
Posting Komentar