Sidak LPG 3 Kg Digelar di Ngawi, Harga Ditekan, Keluhan Warga Belum Padam*


Ngawi http://www.lenteraindonesianews.com Senin lalu (16/03/2026), Pemerintah Kabupaten Ngawi bersama Satgas Pangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) LPG 3 kilogram di Kecamatan Kedunggalar untuk menekan lonjakan harga yang sempat menyentuh Rp30 ribu per tabung. Di atas kertas, harga kembali diarahkan ke HET Rp18 ribu. Namun di lapangan, keluhan warga masih terus bermunculan.

Langkah pengawasan distribusi dan penjualan LPG subsidi dilakukan sebagai respons atas kelangkaan dan kenaikan harga yang terjadi menjelang Lebaran. Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono bersama Kapolres Ngawi turun langsung ke pangkalan untuk memastikan penyaluran berjalan sesuai aturan serta mencegah penimbunan dan permainan harga.
Sejumlah warga mengakui, setelah sidak dilakukan, LPG mulai kembali tersedia dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, kondisi tersebut dinilai belum merata di seluruh wilayah.

Di beberapa kecamatan, warga mengaku masih menghadapi kesulitan mendapatkan LPG, bahkan dengan harga yang jauh di atas ketentuan.

“Ngawi itu pasti ada yang tukang nimbun. Masalahnya setiap mau Lebaran gas hilang dari pasaran. Di daerah Ngrambe bisa tembus 35 sampai 40 ribu, bayangin, itu pun nggak ada barangnya,” ujar Sunarti.

Keluhan serupa disampaikan Samini yang menilai fenomena ini bukan hal baru.
“Hal seperti ini sudah biasa di Ngawi, sepertinya permainan oknum nakal. Rakyat menjerit di tengah beban hidup yang semakin menghimpit,” katanya.

Di wilayah lain, kondisi serupa juga terjadi.
“Di Jogorogo juga langka, banyak yang tidak dapat gas LPG 3 kg,” kata Mbah Di.

Saivul Anwar menyebut harga LPG di Widodaren masih tinggi.
“Apa hanya di Ngawi mendekati hari raya LPG langka, di Widodaren 35 ribu,” ujarnya.

Putra Arjuna berharap ada tindakan tegas terhadap pelaku yang diduga bermain dalam distribusi.
“Walikukun, Widodaren susah gas, harga 30 ribu. Coba sidak para penimbun dan kasih sanksi berat,” katanya.

Di tengah langkah pengawasan yang dilakukan, sebagian warga menilai persoalan utamanya bukan sekadar sidak.
“Ora butuh sidak, butuhe LPG ready,” ujar Imelda.

Nada serupa disampaikan Aurora Jati.
“Mosok pejabat ngatasi gas langka wae gak pecus,” ujarnya.

Sementara itu, Hari Cahyono menyoroti dugaan praktik penimbunan menjelang Lebaran.
“Agen LPG 3 kg mulai menimbun bertujuan untuk getok harga saat Lebaran. Koperasi Merah Putih yang sudah berdiri di masing-masing desa harus bisa menjadi agen utama LPG 3 kg,” katanya.

Rossita berharap ada kejelasan dalam kebijakan harga dan distribusi.
“Semoga cepat ketemu yang nilep tabung gas elpiji. Masak tiap mau Lebaran kok sulit sekali. Kalau harga mau naik ya bilang saja, nggak usah dipersulit,” ujarnya.

Sementara itu, Raka Pratama menilai kondisi di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan upaya percepatan yang dilakukan pemerintah.
“Gerak cepat gimana, kenyataannya di daerah Sine, Ngrambe harga LPG sampai 27 ribu sampai 30 ribu dan barang pun langka. Itu yang dibilang gerak cepat?” katanya.

Pemerintah daerah memastikan pengawasan distribusi LPG 3 kilogram akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. Namun bagi sebagian warga, ukuran keberhasilan tampaknya masih sederhana: bukan pada sidak yang digelar, melainkan pada seberapa mudah gas benar-benar bisa dibeli.(Beni Setyawan)

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :